Magnificent, powerful, emotional, berkelas, indah, dan sangat memuaskan. Itulah impresi saya terhadap ending Code Geass yang baru saja saya tonton subuh tadi. Satu menit full saya memberikan applaus sambil menyeka air mata seperti orang gila. Setelah detik-detik penantian download berlangsung bagaikan seorang maniak sepak bola yang menunggu diputarnya siaran langsung pertandingan piala dunia. Hampir setengah jam saya menunggu sambil mendengarkan lagu sepanjang tiga menit tiga puluh detik yang liriknya cuma satu kalimat, berulang-ulang. Dan setelah selesai, saya langsung cabut pulang, tanpa peduli bahwa speed warnet (masih) bagus dan jika saya mau menghabiskan waktu sedikit lagi di warnet itu saya bakal mendapat 1/5 bagian dari tiket yang bisa dipakai untuk akses ngenet gratis selama satu jam.

Beruntung saya pulang lebih awal daripada senin-senin biasanya, karena saat saya tiba orang rumah masih pada tertidur. Karena jika saya sudah tidak dalam keadaan tidur (ini bisa berarti sudah bangun atau sudah keluyuran ke luar rumah) setelah di atas jam 6, bisa dipastikan secara otomatis beberapa pekerjaan akan langsung mengantri, dan saya yang bukan morning person hanya akan bisa mengerjakan tuga-tugas rumahan tersebut dengan tingkat efisiensi sekitar 5-10% saja, (karena itulah saya sering sengaja bangun di atas jam 8, hehe).


Bagi sebagian orang, liburan bisa berarti travelling ke luar pulau atau menonton konser musik yang harga tiketnya sebanding dengan jumlah biaya ngenet saya sebulan atau menginvestasikan dana pribadi untuk menaikkan level dalam sebuah game online, tapi bagi saya hiburan paling praktis dan menyenangkan adalah menonton sebuah hiburan yang menghibur tanpa diganggu oleh pekerjaan apapun (lalu menulis apresiasi tentangnya di blog ini). Agak sedikit sayang benernya karena sedang puasa jadi saya tidak bisa membeli snack untuk menemani acara nonton, tapi Geass terlalu darurat untuk membuat saya menangguhkan jadwal menonton sampai habis buka. Demikianlah cerita tentang bagaimana akhirnya saya bisa menonton episode terakhir dari anime paling hiperbolis tahun ini dengan suasana dan mood yang kondusif.


Tidak ada yang perlu dispoilerkan Lelouch mati dibunuh Suzaku dalam kostum Zero karena semua orang sepertinya sudah tau, dan dengan mengesampingkan banyaknya komentar-komentar di luar sana saya pribadi seperti yang sudah saya tulis di paragraf awal, sangat puas dengan endingnya. Sumpah endingnya epic, sempat bikin trenyuh dan melelehkan air mata (hoeeekk), tapi beneran, sekarang pikir, kalo misalnya bener-bener ada orang yang dengan sengaja mengorbankan citra dirinya untuk melindungi orang lain, untuk kebahagiaan orang lain, apa iya kita selamanya harus hidup dengan skeptisme dan prasangka. Ah, gila, benar-benar gila, kok bisa ya saya dapet pelajaran moral dari anime sableng ini? Apa karena dua hari lagi lebaran yah. Anyway, setelah setengah hari shopping (photoshopping maksudnya), silahkan dinikmati, edisi spesial Tabikarasu. I called it Tabikarasu Extended. Satu majalah, double side, double cover (pura-puranya, tentu saja). Sorry for the fangirls, though, coz MP dan waktu saya udah kepake buat bikin yang otaku side, jadi yang otome side nggak maksimal desainnya.


Eh, betewe, endingnya Macross gimana sih?