::ATTENTION::

Blog ini sudah dinyatakan tidak aktif lagi. Klik tombol di bawah untuk menuju ke blog yang baru

this post is written in the mood of super red

Wew, beberapa hari belakangan ini saya sibuk dengan persiapan pepakura untuk festival besok November di UKDW, jadi sama sekali tidak sempat mengupdate blog, ahaha. Well, pada awalnya saya berencana mereview satu persatu untuk beberapa anime yang saya ikutin dan sudah tamat, tapi karena sudah banyak yang tamat sementara saya belum juga mulai mengetik (jangankan ngetik, nonton aja kadang tidak sempat =_=) jadi akhirnya saya putuskan untuk men-dump semuanya di post ini.

Ok, kita mulai dari barisan anime-anime season lalu yang sudah tamat. Dengan mengesampingkan Wagaya dan Allison yang saya belum sempat nge-rally, here it is, the final impression for;

Yakushiji Ryoko no Kaiki Jikenbo


Yah, anime ini akhirnya berakhir juga di episode 13. Woot! saya melompat-lompat kegirangan. Eh, tapi, tunggu sebentar, kalo dipikir-pikir lagi, apa yang saya dapet dari anime ini? Yakushiji Ryoko adalah sebuah anime.. hm, detektif? bisa, tapi kasus yang ada tidak butuh pemikiran yang terlalu rumit. Kalo begitu, anime action? tidak juga, anime ini sarat adegan action yang keren TAPI mustahil. Yakushiji Ryoko jelas bukan tontonan yang akan saya rekomendasikan untuk mereka yang mencari action serius karena Ryoko-sama si superintendent edan ini lebih mirip dengan Dante nya DMC daripada Snake nya MGS. Sci-fi? lebih tidak lagi, meskipun banyak referensi ilmiah dalam anime ini tapi tema utama anime ini adalah supernatural. Tiba-tiba datanglah hantu, tiba-tiba datanglah spirit, tiba-tiba datanglah monsterr, itulah Ryoko. Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh jangkrik, tanaman yang bisa mengendalikan manusia. Seperti itulah. Jadi balik ke pertanyaan awal tadi, lalu kenapa saya bisa nonton anime ini sampai tamat?


Jawabannya tentu saja karena Yakushiji Ryoko nya. Ya iyalaah masa ya iya dong, mayat aja dibedah, bukan dipocong. Cantik, sexy, pintar, kaya, dan kemanapun bergerak selalu menimbulkan aura yang menarik mahluk halus untuk mendekat, kurang apa lagi coba? lol. Oh dan tentu saja, tsundere :3 Yakushiji Ryoko bisa menghentikan tank hanya dengan kedipan mata dan bisa melompat-lompat serta menendang seperti di iklan LUX yang dibintangi Dian Sastro dengan memakai long dress yang seksi dan high heel yang hot tanpa terjatuh. Saat pertama kali saya nonton anime ini, memang banyak yang terasa janggal. Adegan itu tidak mungkin, atau tidak mungkin bisa selamat dari ledakan itu dengan kondisi masih seperti di iklan handbody lotion. Tapi akhirnya saya sadar kalo memang seperti itulah animenya, dan sepertinya Ryoko-sama memang too charming to be dropped jadi ya akhirnya saya nonton sampai selesai XD

Satu-satunya yang tidak bisa Ryoko lakukan adalah memasak. Ah tapi untuk apa seorang wanita harus bisa masak jika dia sudah punya dua orang maid yang cute dan sangat kompeten seperti ini?


Satunya ahli senjata dan satu lagi hacker dan teknisi yang handal. Sebenarnya Yakushiji Ryoko kalo dipikir-pikir malah seperti harem anime karena Oryo pun (menurut novelnya) juga menyukai Izumida. Dan kalo dipikir-pikir lagi, saya juga menonton anime ini sama seperti otaku yang terkena sindrom moe. No plot, no logic, sebodo amat, yang penting heroine nya keren, habis perkara.


Pada akhirnya Yakushiji Ryoko menikah dengan Izumida dan melahirkan seorang anak perempuan. Namun karena merasa terganggu dengan segala status yang dimiliki oleh keluarga Yakushiji (karena ini adalah Yakushiji Ryoko, tentu saja setelah menikah Izumida memakai nama keluarga istrinya) akhirnya anak perempuan tersebut mengganti nama keluarganya dengan nama ciptaannya sendiri. Dan sejak itulah Yakushiji Haruhi menjadi Suzumiya Haruhi yang kita kenal (bohong).



Natsume Yuujinchou

Hiiragi muncul lagiii!!!! *senang* *senang**senang**senang**senang**senang**senang*
Berbeda dengan Ryoko yang saya cukup lega karena cuma 13 episode saja (jika kepanjangan malah bakal jadi monoton menurut saya), Natsume berakhir dengan abrupt, prematur dan terasa tiba-tiba. Tidaaaaakkk, kata saya ketika melihat preview next episode untuk episode tiga belas. Apalagi episode terakhirnya yang hanya dengan melihat previewnya pun pasti sudah bisa menebak jika kurang lebih akan sama seperti episode final XXXHOLiC: Kei, dimana semua karakter berkumpul untuk merayakan matsuri.

Terima kasih anda telah menyaksikan Natsume Gay-shinchou
LOL sepertinya fansubnya satu pikiran dengan saya

Sayang sekali, mungkin karena musim panas memang hanya 13 minggu, maka anime ini pun harus berakhir. Padahal kalaupun dibuat 26 episode juga saya tidak akan protes. Tidak diragukan lagi, Natsume adalah judul terbaik untuk musim panas tahun ini, saya hanya bisa berharap tahun depan ada second seasonnya (atau minimal scanlation manganya tidak stuck lah)


Zero no Tsukaima - Princess no Rondo


Weird, entah kenapa ending dari instalasi ketiga the-tale-of-not-so-sexy-tsundere-and-her-baka-inu ini tidak terasa begitu mempunyai impact. Padahal dibanding seri keduanya, Futatsuki no Kishi, saya lebih suka dengan season ketiganya ini. Dari segi oppai balance antara plot progress dengan filler, drama dengan fanservice, dan action, di Princess no Rondo perbandingannya seimbang, membuatnya lebih enak ditonton. Tapi begitu sampai dengan klimaks dan akhirnya final battle, that's it. Sangat klise dengan Louise dalam tsundere modenya dan mencium Saito. Padahal saya berharap sesuatu yang epic, mengingat season 2 yang dramatis dengan Saito maju perang Dynasty Warrior style. Oh, well, season empat juga saya tidak menolak, hanya saja setelah tiga season dan masih sebatas kissing scene, bagaimana kalo di season ke-4 nanti adegannya lebih dari itu? XDDD

~*~

Yak, sampai di sini reviewnya untuk anime-anime yang sudah tamat, saya akan menyambungnya dengan Wagaya dan Allison dan Shugo Chara (meskipun tidak bisa dibilang tamat karena langsung lanjut ke season 2) next time, sekarang mari kita beralih ke first impression episode satu (holy zhit, banyak banget listnya +_+)

Sebelum saya melanjutkan menulis, perlu diingat kalopun saya bilang jelek belum tentu saya tidak akan mengikutinya, dan sebaliknya, karena kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah sutradara. Atau gampangnya episode ke satu kadang suka menipu. Oh dan tambahan kedua, K-kuroshitsuji.. t-t-ternyata keren banget +_+ (darn, tapi harus diakui memang) jadi saya akan menulis tentang anime tersebut dalam post tersendiri.

Secara sekilas setelah melihat beberapa judul yang telah keluar, musim gugur ini banyak didominasi oleh tokoh-tokoh heroine yang quite striking. Selain Kyou yang hanya menjadi sidekick, selebihnya para tsundere lah yang menduduki jabatan main heroine dalam anime-anime musim ini. Sepertinya tema musim ini adalah emansipasi (atau SM?)

Clannad ~ After Story


Hore.. Clannad, horee.. KyoAni.. but, wait! bisa jadi inilah alasan yang membuat second seasonnya Suzumiya Haruhi tidak keluar-keluar. AIR; 13 episode untuk tiga karakter bishoujo, ok. Kanon; karena jumlah bishoujonya dua kali lipat dari AIR, jadi 26 episode, ok. Clannad... kenapa harus sampai dua season?? Memang, Kyo Ani masih tetap memanjakan fansnya dengan tidak pernah membuat episode yang tidak berkualitas. Antara drama dan komedi, antara romantisme cinta, teman dan keluarga, KyoAni meramu elemen tersebut dengan takaran yang pas tapi tetap saja setelah melihat episode perdananya saya merasa jika Clannad terlalu ditarik-tarik seperti kue mochi. Dan tidak seperti season pertamanya, untuk after story ini saya tidak bisa memasukkannya ke dalam list "must watch ASAP", mungkin nantilah setelah plotnya mulai intense.

ToraDora

Surprisingly, amazingly, anime ini malah menarik perhatian saya. Saya tidak tahu bagaimana dengan manga nya, tapi ada yang menarik dengan cara J.C staff memulai anime ini dengan menswitch bolak-balik antara tora dan dora POV, lol.

first we have this crazy dude as the lead character
and then we got this crazy burikko mom
and of course, the star of this show, this crazy doll, I mean, girl
uh, and we also have this crazy.. what's this? parrot monster?

The premise is good, love-hate relationship a la Kaguya dan Mokou, dengan setiap pihak memegang kelemahan pihak satunya, yang satu salah menaruh surat cintanya ke dalam tas orang, yang satu tidak sengaja keceplosan tentang orang yang disukainya, hahaha, menarik. Plus point untuk tokoh utama yang sering bermonolog.



what the f-?

now, this theory hasn't been approved by any sociologist out there, tapi menurut saya, ada tiga alasan yang bisa membuat commu semakin kuat (tidak begitu penting untuk diketahui sih, tapi setidaknya bisa dipakai jika kalian sedang ingin mendekati seseorang); yang pertama adalah persamaan nasib, yang kedua persamaan tujuan dan ketiga adalah balas budi. Toradora adalah yang pertama, Lawrence dan Horo adalah yang kedua dan Fuyou Kaede adalah contoh untuk nomer tiga.

Kannagi


Kannagi is quite lol, meskipun saya tidak yakin premisnya cukup adiktif untuk diikuti. Hal yang sama juga berlaku untuk To Aru Majutsu no Index (jika J.C ingin membuat Toradora sebagai replacement untuk Zero no Tsukaima di musim ini, bisa dibilang kalo Index adalah penggantinya Shana). Satu hal yang saya akui dari Kannagi adalah openingnya yang super keren. Sepertinya sejak adanya demam Hare Hare Yukai, beberapa studio mencoba meniru kesuksesan tersebut dengan memasukkan koreografi ke dalam opening atau ending clip. Dan Kannagi cukup berhasil dalam hal ini. Elemen nomer dua yang juga mendapat salute dari saya adalah kualitas grafisnya. Untuk sebuah anime bishoujo, Kannagi mempunyai grafis yang paling bening diantara rekan-rekan sealirannya (well, sebanding dengan Index benernya, hanya saya lebih prefer karakter desainnya Kannagi). Ah dan sebagaimana R.D membuat saya suka dengan Jingrock, anime ini berhasil mempropaganda saya kalo hairstyle dengan poni tipis ternyata bisa keren juga.

In conclusion, I'll be keeping on my eyes on Kannagi but not as a first priority (at least for now), and by the way, kalo ada yang tahu tentang sacred tree tolong saya titip ditebangin satu, siapa tau kalo saya bikin pepakura dari kertas yang asalnya dari sacred tree nanti bisa berubah seperti di anime ini XDD

Kyou no 5-2


Mengecewakan. Itulah impresi saya untuk anime comedy yang saya tunggu musim ini. Daya tarik utama Kyou no go no ni (Today at class 5-2) terletak pada humornya yang "tidak akan terlihat lucu kecuali jika otak kalian sudah cukup mesum untuk memahaminya". Versi manga dan OVAnya adalah filter terbaik untuk mengetes seberapa ecchi pikiran seseorang (untuk tahap pemula, untuk filter yang lebih advance lagi saya merekomendasikan manga "Imouto wa Shishunki") dan di versi TV seriesnya, style humor itu hilang. Padahal itulah soul dari Kyou no 5-2. Arghhh.



Jika saya harus melanjutkan rants saya, maka saya akan melanjutkan listnya dengan lagu openingnya yang tidak sekeren OVAnya. Beat rock yang menghentak dengan lirik "yuu.. just mai friend.. just mai friend.. " yang terdengar lol tapi quite dalem tidak bisa ditandingi oleh lagu opening versi TV seriesnya. Rants point dua, dulu di OVAnya setiap ada adegan humor yang "tidak akan terlihat lucu kecuali jika otak kalian sudah cukup mesum untuk memahaminya" tadi, selalu ada sound piano romantis murahan yang mengiringi, yang akan memaksa otak kalian berpikir yang bukan-bukan, LOL. Tapi di seriesnya efek ini juga menghilang entah ke mana. Huhuu.. saya akan mencoba satu atau dua episode ke depan tapi jika tidak ada perubahan, anime ini terpaksa akan saya drop.

Ok, sampai di sini dulu, saya masih belum sempet nonton Vampire Knight dan Shikabane Hime. Sedangkan  Ef rencananya mau saya tonton ntar malem untuk weekend.

extra:
Setelah melihat banyaknya tsundere yang bertebaran di season ini, saya baru nyadar ada sedikit mismatch konsep antara moe-tsundere dengan tsundee irl, yaitu kenapa cewek tsundere suka sekali menendang pas di bagian "itu"nya cowok? dalam prakteknya, saat memasuki fase tsuntsun, jarang sekali yang akan ber-gao gaoo seperti stegosaurus yang menyemburkan api dalam game Airrade. Mereka biasanya akan mengakses mode mukuchi ala Nagato Yuki, berbalik arah dan tidak akan menjawab sms atau telepon yang masuk, meskipun anda sudah men-spamnya seperti peluru-peluru dalam game Touhou level lunatic mode. Mereka akan berusaha menghindar seperti seorang novice dalam game online yang bertemu dengan monster level 99, meninggalkan anda sendirian yang mencoba menerka-nerka seperti saat mister Langdon mencoba memecahkan Da Vinci Code. Fase ini dalam istilah psikologi gaulnya dikenal dengan nama ngambek. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengcounter attack serangan ini dan membaliknya dari tsuntsun mode ke deredere mode, namun karena sejauh ini The Tsundere Research and Development Center di Inggris sono (karena tsundere oujo-sama yang pertama kali ada diyakini adalah Alice) masih belum menemukan cara dengan efektifitas lebih dari 50% maka saya juga belum bisa menulisnya di sini. Namun dengan mengesampingkan anime drama non moe seperti Hachikuro, Nana dan Bokura ga Ita, ada satu title yang cukup cerdas dan benar-benar tau bagaimana cara mengaplikasikan dead silence skill seorang tsundere dengan cukup flawless. Yep, apalagi kalo bukan Suzumiya Haruhi.

Apakah malam minggu ini anda bersama dengan seorang robot?

this post is written in the mood of deep blue


Diantara deretan OVA dan movie tahun ini yang saya tunggu, salah satu diantaranya yang sudah muncul ke permukaan adalah Eve no Jikan. Dibuat oleh studio yang pernah membuat sebuah OVA yang juga tidak kalah mengagumkannya, Pale Cocoon, pada awalnya saya sempat meragukan tentang content dari anime ini. Bagaimana tidak, anime ini bercerita tentang "jaman dimana robot dan manusia hidup berdampingan", sedangkan cerita yang memakai tema seperti itu sudah tidak terhitung banyaknya. Oh no, tolong jangan sesuatu tentang robot yang mempunyai hati lagi, plis deh, saya sudah eneng dengan yang seperti itu, begitulah kurang lebih gumaman saya waktu melihat trailer Eve no Jikan beberapa bulan yang lalu. Tapi ternyata saya salah, sebagaimana Pale Cocoon, --yang bercerita tentang dunia di mana polusi dan degradasi alam sudah sedemikian parahnya sampai atmosfer bumi tertutup asap hitam dan manusia hanya bisa melihat langit biru dan rerumputan hijau melalui file-file foto dari beberapa decade yang lampau (itupun harus dibrowse dan karena banyak data yang rusak, beberapa harus direcovery terlebih dulu seperti pemulung yang memunguti barang-barang yang masih bisa dipakai dari tumpukan sampah)-- dalam Eve no Jikan, studio Rikka lagi-lagi berhasil menceritakan sebuah konsep yang cukup untuk menggelitik logika (tentu saja jika kalian suka berpikir) dan nurani (tentu saja jika kalian punya hati) kalian sebagai manusia.


Seperti yang sudah ditulis di paragraf sebelumnya, Eve no Jikan memang bercerita tentang robot. Di sebuah jaman di masa yang akan datang, manusia sudah mampu menciptakan robot dengan penampilan fisik yang menyerupai manusia. Robot-robot tersebut dapat diprogram untuk mengerjakan berbagai macam hal (melihat dari banyaknya robot yang ada di anime itu, bisa disimpulkan bahwa kemungkinan besar tidaklah membutuhkan banyak biaya untuk memiliki sebuah robot). Satu-satunya penanda yang membedakan antara robot dengan manusia secara kasat mata adalah lingkaran yang berpendar dengan warna kuning seperti halo di atas kepala mereka. Secara garis besar, bisa dikatakan manusia telah mampu menciptakan tool yang bisa memenuhi kebutuhan fisik mereka secara otomatis. Akan tetapi, mungkin karena desain dan kedekatan antara robot dengan sang pemilik, sebagian orang berusaha memenuhi kebutuhan fisik DAN emosional dari robot yang mereka punya. Bukan hal yang sulit, tampaknya, karena robot-robot di dalam Eve no Jikan mempunyai artificial intelligence yang memungkinkan mereka untuk belajar dan berkembang. Sangat menarik, kalo saya bilang, karena di sini studio Rikka tidak membuat konsep robot sebagai sesuatu yang mempunyai kemungkinan untuk memiliki emosi atau perasaan, namun justru proses bagaimana sebuah robot meng-encode perasaan dan menganalisa behaviour dari pemiliknya lalu mengaplikasikannya menjadi sebuah aktivitas itulah yang menjadikannya sebuah emosi buatan yang mampu menarik dan mengampil empati dari pemiliknya. Fenomena inilah yang di dalam Eve no Jikan disebut dengan dori-kei, yaitu seseorang yang menganggap robot sebagai se"orang" individu, dalam hal ini bisa berarti teman, kekasih, orang tua, atau siapapun. Dan inilah yang membuat saya menyebut anime ini "horror".


Saya tidak akan menulis tentang plot dimana karakter utama dalam cerita ini berusaha mencari eksistensi dirinya, apakah seorang dori-kei atau bukan, atau tentang Eve no Jikan sendiri, yaitu nama sebuah kafe dimana pemilik kafe tersebut membuat peraturan bahwa dalam kafe miliknya batasan antara robot dengan manusia dihilangkan, dimana robot boleh dan harus mematikan halo di kepala mereka, dimana manusia dilarang mengucapkan kata "robot" dan semua yang berhubungan dengan itu. Eve no Jikan, atau diterjemahkan sebagai "the time of eve" adalah sebuah waktu dan tempat dimana tidak ada batasan antara mahluk dengan pencipta, pemilik dengan alat, dan mesin dengan ciptaan Tuhan. Jauh sebelum anime ini dirilis, studio Rikka sebenarnya sempat mengeluarkan anime pendek berjudul "Mizu no Kotoba" atau "Aquatic Language" yang bisa disebut sebagai prototype dari Eve no Jikan. Saat saya pertama kali melihat Mizu no Kotoba, tanpa mengetahui bahwa itu adalah referensi untuk Eve no Jikan (baca: tentang robot), saya menikmati setiap chemistry dan dialog-dialog cerdas yang mengalir dalam setiap adegan. Sebuah percakapan, atau lebih tepatnya obrolan, yang santai namun berbobot, berseberangan namun tidak mendebat, bertukar pikiran tapi tanpa saling mempengaruhi, sesuatu yang juga saya sukai baik di online maupun offline. Jadi bisa dibayangkan betapa shocknya saya saat di akhir cerita, ketika kafe tempat sang tokoh utama dengan pemilik kafe itu bercakap-cakap hendak tutup, diperlihatkan bahwa si cewek pemilik cafe tersebut sebenarnya adalah robot. Oh shi- pikir saya, karena scene tersebut bagi saya terasa bagaikan chatting berjam-jam atau berdikusi di sebuah forum sampai berparagraf-paragraf hanya untuk mengetahui kalo ternyata saya sedang berbicara dengan sebuah bot.


Lupakan bimbingan konseling, night club atau host club nya Ouran High School, bagaimana jika kalian bisa memiliki seorang teman sekaligus kekasih sekaligus pendamping hidup sekaligus partner sekaligus rekan kerja sekaligus asisten sekaligus penasehat sekaligus bodyguard yang handal, hanya saja dia bukan manusia, melainkan sebuah program. Sebuah program yang bisa belajar untuk membuat keputusan independent berdasarkan preferensi kalian. Seperti yang saya tulis sebelumnya, di anime ini diceritakan bahwa robot tidak hanya mengingat, tapi juga menganalisa dan belajar. Jadi gampangnya, seperti dalam salah satu scene, jika kalian suka makanan atau minuman yang manis maka pada saat kalian menyuruh robot kalian membuatkan teh, saat dia tahu tentang hal tadi, dia akan menambahkan gula dalam teh yang dia buat, tanpa diberi input untuk membuat teh yang manis. Atau, jika kalian adalah seorang shopaholic, saat kalian menyuruh robot kalian belanja ke supermarket, dia akan membawa pulang barang belanjaan plus beberapa barang lainnya dan dia akan berkata mumpung lagi ada obral, karena sedang ada discount. Nah, pertanyaannya, lalu berapakah harga sebuah manusia sebagai "seorang manusia"? dalam hal ini sebagai mahluk sosial. Pertanyaan lainnya, apakah kalian menganggap Eve no Jikan sebagai sebuah serial drama? ataukah horror?


Ah, tapi terlepas dari teori filosofi orang mabok di atas, Eve no Jikan adalah sebuah tontonan yang menarik. Sejauh ini, OVA nya baru keluar dua episode dengan jadwal rilis dua bulan per episode (jika benar total anime ini adalah 6 episode maka berarti masih delapan bulan lagi penantian sampai tamat), dan sampai sejauh ini, selain hal-hal yang saya sebutkan di atas, ada beberapa point lain yang menarik untuk disimak.


Yang pertama adalah celah dalam tiga hukum dasar robot. Di dalam anime ini dijelaskan mengenai 3 aturan inti untuk robot yaitu;
1) Robot tidak diperbolehkan menyakiti manusia
2) Robot harus selalu mematuhi perintah manusia, selama tidak bertentangan dengan pasal satu.
3) Saat tidak melakukan tugas, robot harus menjaga dirinya sendiri, selama tidak bertentangan dengan pasal satu dan dua.
Di episode dua, tokoh teman dari karakter utama menunjukkan bahwa aturan tersebut tidak melarang robot untuk berbohong. Aturan tersebut juga tidak melarang robot untuk bersantai seperti manusia (saat sedang tidak bertugas). Tapi saya jadi penasaran, bagaimana jika kita menyuruh sebuah robot untuk bunuh diri? hahaha.


Juga saat ada dialog yang mengatakan bahwa ada yang salah denganmu jika kau berterima kasih pada robot. Jika dipikir-pikir benar juga, apakah saya akan mengatakan "terima kasih" pada kipas angin karena telah membuat saya tidak kepanasan? ataukah saya harus mengucapkan "terima kasih, printer" pada printer saya yang telah mencetakkan template pepakura? pada akhirnya saya sependapat dengan teman saya, F-san, yang mengatakan teorinya bahwa, saat robot mulai di desain dengan detail seperti manusia, di situlah awal dari semua kesalahan. Dan saya juga hendak menambahkan bahwa kalaupun hal itu terjadi, dori-kei tetaplah sebuah fenomena yang lingkupnya hanya sebatas minoritas saja, karena toh jika orang-orang di Akiba akhirnya berhasil menciptakan penistron atau sebangsanya yang bisa membuat kalian berhubungan seks dengan respon yang (cukup) nyata secara online atau lewat eroge, tetap saja tidak sebagian besar orang akan berubah menjadi nijicon, itu pendapat saya loh.

Selamat datang musim gugur


this post is wriiten in the mood of red

Entah siapa yang mulai, yang jelas sejak spring kemarin setiap datang musim anime baru selalu disambut dengan tradisi mem-vandalisme file jpeg yang berisi list judul anime yang akan tayang. Jelas ini adalah kerjaan yang hanya dilakukan oleh otaku kurang kerjaan, er, tunggu sebentar, emang ada otaku yang punya kerjaan.? Yah kalopun ada berarti saya harus meralatnya dengan otaku yang punya kerjaan tapi masih sempat meluangkan waktunya. Anyway, sebenarnya inti dari kegiatan ini bukanlah pada kebiasaan menjudge dan menghina anime-anime atau hal-hal lainnya yang telah melekat pada stereotipikal karakter otaku yang sok punya kuasa, melainkan pada saat setiap orang berkumpul dan mempresentasikan opininya dengan saling mendebat satu sama lain.

Aside from all the above, musim gugur ini sepertinya mempunyai banyak stok drama yang delicious seperti Hakushaku to Yousei (I'm really curious about this one), EF, dan Clannad. Judul-judul yang menjanjikan angst seperti Vampire Knight dan Jigoku Shoujo. Plus comedy show yang cukup masuk selera seperti Zetsubou Sensei dan Kyou no go no ni. Beberapa show yang patut diantisipasi jumlahnya juga cukup banyak seperti Kuroshitsuji (finally, a serious buttler anime?) Michiko to Hatchin nya Manglobe, Chaos Head dan Shikabane Hime. Shugo Chara juga masih lanjut (wow, ini pertama kalinya saya nonton anime yang lebih dari 52 episode! selain Rurouni Kenshin di SCTV dulu tentunya) dan spesial anticipation saya berikan untuk Heart no Kuni no Alice, kita doakan saja semoga versi adaptasinya tidak mengecewakan.

Tahukah anda jika..

this post is written in the mood of green

Jadi sekali lagi, untuk semua orang, yang dapet sms selamat lebaran dari saya maupun yang belum karena pulsa saya keburu habis duluan dan nggak ada toko pulsa yang buka lebaran-lebaran gini, selamat lebaran yah..